Konselor Sebaya 2016 Bersama Siswa SMP, MTS dan SMA di Wilayah Puskesmas Tegalrejo

Pelatihan konselor sebaya merupakan pertemuan rutin diadakan oleh Puskesmas Tegalrejo setiap tahunnya. Untuk Peserta Pelatihan konselor ini dihadiri sekitar 42 orang siswa yang merupakan pilihan dari beberapa sekolah yang tersebar di wilayah kerja Puskemas Tegalrejo. Ada SMP 6 Salatiga, SMP 10 Salatiga, MTS Negeri Salatiga, SMP NIdaul HIkmah, SMK Bakti Nusantara, SMA 2 Salatiga. Setiap Sekolah mewakilkan 2 siswa untuk menjadi konselor sebaya.

Jika kita mengamati kondisi perilaku remaja saat ini yang cenderung labil. Biasanya di usia remaja cenderung bertindak dan tanpa berpikir panjang apabila mempunyai masalah. Ironisnya, mereka kerap sekali menceritakan permasalahanya pada teman sebaya. Pasalnya, dengan teman sebaya mereka bisa leluasa dan nyaman untuk bercerita.


“Oleh karena itu, kami mencetak kader-kader kesehatan ini, nantinya lebih mengedukasi temannya apabila menerima informasi yang salah,.
Materi Konselor Sebaya Oleh PJ PKPR Ibu Nur Endah  N
Materi yang akan disuguhkan ada 3 macam yaitu, pertama yakni Dasar-dasar Konselor Untuk Remaja. Kedua, mempelajari bagaimana cara menjadi fasilitator yang baik dan ketiga adalah mengenal seperti apa dan bagaimana komunikasi yang efektif serta mempelajari apa itu komunikasi konseling. Dilanjutkan sesi praktek langsung bersama temannya pada sesi terakhir.

Peran konselor dari siswa ini memang sangat dibutuhkan. Ketika peran guru yang masih dianggap sungkan untuk sebagai wadah curhat (curahan hati) siswa. Disinilah fungsi konselor mengambil alih hal-hal yang dialami siswa. Permasalahan ini biasanya meliputi broken home yang dialami ortunya di rumah, bermasalah dengan pelajaran sekolah yang tidak disukai. Mungkin bisa jadi lagi tidak menyukai sikap teman sebangku atau lainnya. Bahkan dampak pacaran yang kerap memicu permasalahan hingga proses pencarian jati diri.

Peserta antusias menerima materi
Disini pun dipaparkan, pelatihan ini juga akan diberikan materi sebatas kesehatan yang terkait dengan tren permasalahan remaja, seperti hamil di luar nikah, pemakaian Narkoba. dan minuman keras.

“Materi kesehatan akan kami suguhkan hanya sebatas pengantar saja, lebih dalamnya langsung ke Puskesmas karena ada yang menangani sendiri.”

Sebagai tindak lanjut terhadap bimbingan kepada Sekolah diadakan juga kunjungan ke sekolah oleh petugas Puskesmas yang dijadwalkan setiap bulannya. Disitu juga bisa dijadikan wadah untuk berkonsultasi dan sharing mengenai masalah yang dihadapi para konselor sebaya yang sudah ditunjuk. Inti dari diadakannya pelatihan konselor sebaya ini adalah sebagai berikut :

Tujuan KTS
  • Dapat membantu konselor dalam menangani siswa yang bermasalah
  • Membantu beberapa siswa yang sulit terbuka dengan konselor dalam menghadapi masalahnya
  • Membantu konselor dalam menuntaskan bimbingan dan konseling bagi setiap siswa
  • Fungsi dan manfaat

Menurut Krumbolth (1976) fungsi KTS :
  • Membantu siswa lain memecahkan permasalahannya.
  • Membantu siswa lain yang mengalami penyimpangan fisik.
  • Membantu siswa-siswa baru dalam menjalani pekan orientasi siswa untuk mengenal sistim dan suasana sekolah secara keseluruhan.
  • Membantu siswa baru membina dan mengembangkan hubungan baru dengan teman sebaya dan personil sekolah.
  • Melakukan tutorial dan penyesuaian sosial bagi siswa-siswa asing (kalau ada).
  • Manfaat KTS untuk siswa menurut Hamburd (1972) :
  • Siswa memiliki Kemampuan melakukan pendekatan dan membina percakapan dengan baik serta bermanfaat dengan orang lain.
  • Siswa memiliki Kemampuan mendengar, memahami dan merespon (3M), termasuk komunikasi nonverbal (cara memandang, cara tersenyum, dan melakukan dorongan minimal).
  • Siswa memiliki Kemampuan mengamati dan menilai tingkah laku orang lain dalam rangka menentukan apakah tingkah laku itu bermasalah atau normal.
  • Siswa memiliki Kemampuan untuk berbicara dengan orang lain tentang masalah dan perasan pribadi.
  • Siswa memiliki Kemampuan untuk menggunakan keputusan yang dibuat dalam konseling mengahadapi permasalahan-permasalahan pribadi, permasalahan kesehatan, permasalahan sekolah, dan permasalahan perencanaan hubungan dengan teman sebaya.
  • Siswa memiliki Kemampuan untuk mengembangkan tindakan alternatif sewaktu menghadapi masalah.
  • Siswa memiliki Kemampuan menerapkan keterampilan interpersonal yang menarik untuk mengusahakan terjadi pertemuan pertama dengan siswa yang minta tolong.
  • Siswa memiliki Kemampuan untuk mengembangkan keterampilan observasi atau pengamatan agar dapat membedakan tingkah laku abnormal dengan normal; terutama mengidentifikasi masalah dalam menggunakan minuman keras, masalah terisolasi, dan masalah kecemasan
  • Siswa memiliki Kemampuan mengalih tangankan konsli untuk menolongnya memecahkan masalahnya jika dalam KTS tidak dapat menyelesaikan.
  • Siswa memiliki Kemampuan mendemontrasikan kemampuan bertingkah laku yang beretika.
  • iswa memiliki Kemampuan mendemontrasikan pelaksanaan strategi konseling.